Pendahuluan
Diabetes melitus merupakan gangguan endokrinologi yang memacu timbulnya aterosklerosis, dan berperan pada munculnya penyakit serebrovaskular. Efek hiperglikemia dan hipoglikemia akut pada sistem saraf dapat menyebabkan timbulnya gangguan kesadaran, gangguan kognitif, dan defisit neurologik. Proses aterosklerotik yang kronik dapat menimbulkan iskemia serebral yang berperan pada munculnya defisit neurologik yang permanen dan gangguan kognitif.
Gelombang P300 merupakan potensial aksi (event related potential) yang dipergunakan sebagai salah satu alat ukur obyektif fungsi kognitif. Gangguan dalam amplitudo maupun latensi P300 dilaporkan pada berbagai penyakit neurologi dan psikiatri, seperti demensia, sklerosis multipel, epilepsi, penyakit degeneratif sistem saraf pusat, skizofrenia dan depresi, berbagai bentuk encephalopati infeksi dan metabolik, penyakit ginjal kronik, dan intoksikasi alkohol.
Beberapa penelitian terdahulu menilai fungsi status mental pada penderita diabetes melitus dengan hasil yang bervariasi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya gangguan fungsi kognitif pada penderita diabetes melitus, namun penelitian lain menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Beberapa penelitian terdahulu menggunakan pemeriksaan P300 pada penderita diabetes melitus dengan
hasil yang bervariasi dan masih terbatas.
Pertanyaan kritis yang muncul adalah “seberapa sering gangguan kognitif pada penderita DM?”, “apakah P300 dapat digunakan sebagai pengukuran yang obyektif untuk gangguan kognitif pada DM?”, “apakah skrining kognitif diperlukan sebagai bagian untuk menilai komplikasi DM?”. Kajian ini melakukan pelacakan dan telaah pustaka tentang gangguan kognitif pada DM.

 

Pembahasan
Gangguan kognitif pada DM Beberapa penelitian terdahulu menilai fungsi status mental pada penderita diabetes melitus dengan hasil yang bervariasi.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya gangguan fungsi kognitif pada penderita diabetes melitus, namun penelitian lain menunjukkan hasil yang tidak signifikan.

Diabetes melitus merupakan gangguan endokrinologi yang memacu timbulnya aterosklerosis, dan berperan pada munculnya penyakit serebrovaskular. Proses aterosklerotik yang kronik dapat menimbulkan iskemia serebral yang berperan pada munculnya defisit neurologik yang permanen dan gangguan kognitif.

P300 pada Diabetes Melitus Gelombang P300 merupakan potensial aksi (event related potential) yang dipergunakan sebagai salah satu alat ukur obyektif fungsi kognitif. Gangguan dalam amplitudo maupun latensi P300 dilaporkan pada berbagai penyakit neurologi dan psikiatri. Tabel berikut menunjukkan kajian sistematis penelitian P300 pada penderita diabetes melitus.

Hasil pelacakan pustaka secara elektronik menunjukkan bahwa jumlah penelitian P300 pada kelompok pasien Diabetes Melitus masih terbatas. Hasil kajian sistematis di atas menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh masih bervariasi, jumlah subyek yang
terbatas, dan pembanding yang tidak seimbang. Skrining kognitif pada Diabetes Melitus Kajian di atas memperlihatkan bahwa proporsi gangguan kognitif relatif lebih tinggi pada penderita diabetes mellitus. Pertanyaan yang menarik adalah “apakah skrining gangguan kognitif harus dilakukan pada penderita Diabetes Melitus? dan “apakah gangguan kognitif harus dipandang
sebagai salah satu komplikasi Diabetes Melitus?”. Berbagai tes skrining gangguan kognitif telah dikembangkan untuk dapat digunakan dalam pelayanan primer.

Berbagai tes tersebut cukup sederhana, dan dapat digunakan secara cepat. Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa tes menggambar jam, tes mini status mental, dan tes skrining kognitif singkat, serta tes pendek memori dan orientasi memiliki reliabilitas dan validitas yang memadai untuk digunakan dalam praktek klinik. Tes-tes tersebut cukup singkat dan memiliki feasibilitas yang tinggi bila digunakan dalam proses pelayanan klinik.

Gangguan kognitif harus diwaspadai sebagai bagian dari salah satu komplikasi Diabetes Melitus. Dokter yang merawat pasien Diabetes Melitus perlu mewaspadai hal ini. Kewaspadaan yang memadai akan membantu dalam proses deteksi dini dan tatalaksana yang lebih adekuat. Penelitian dan kajian dengan jumlah sampel yang besar masih diperlukan. Suatu panduan berbasis bukti juga diperlukan untuk pengambilan keputusan klinis yang tepat.

Kesimpulan
Hasil kajian menunjukkan bahwa secara patofisiologis Diabetes Melitus dapat berperan untuk munculnya gangguan kognitif. Berbagai hasil penelitian observasional masih cukup bervariasi, namun cenderung mendukung fakta adanya proporsi gangguan kognitif yang lebih tinggi pada pasien Diabetes Melitus. Dokter yang menangani pasien Diabetes Melitus seharusnya lebih mewaspadai kemungkinan munculnya gangguan kognitif.