BAB I

PENDAHULUAN

 

Endotalmitis merupakan suatu penyakit yang serius dapat menyebabkan kebutaan sebagai komplikasinya. Endotalmitis dapat disebabkan bakteri maupun jamur, dan sering terjadi oleh karena trauma pada bola mata, pos operasi, filtrasi bleb.

Insiden endotalmitis bakteri dilaporkan mencapai 0,06% pada level terendah dan tertinggi sebanyak 0,5%. Pada penelitian yang dilalukan oleh Weinstein dkk terhadap 22 kasus endotalmitis pada anak-anak, ditemukan bahwa 86% infeksi disebabkan oleh trauma pada bola mata, dan pada hasil kultur ditemukan kuman gram positiv sebanyak 75%.

Pada pasien yang diterapi imunosupresan, alkoholik, penderita diabetes mellitus dan penyakit berhubungan dengan sistem imun berisiko terjadi septikemia bakteri yang akan menjadi endotalmitis.

Endotalmitis merupakan penyakit yang memerlukan perhatian pada tahun-tahun terakhir ini karena dapat memberikan penyulit yang gawat akibat suatu trauma tembus atau akibat pembedahan mata intra okular.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Definisi

    Endotalmitis secara etimologi berasal dari bahasa Yunani end;dalam, ophthalmos; mata, itis; radang. Jadi endotalmitis merupakan bentuk respon peradangan akibat suatu infeksi setelah trauma, bedah, atau endogen akibat sepsis pada jaringan intra okuler.

  2. Etiologi

    Penyebab endotalmitis supurtif adalah kuman dan jamur yang masuk melalui trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen).

    Mikroorganisme yang meupakan penyebab endotalmitis supuratif adalah;

    Bakteri yaitu: Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, Streptococcus sp, Bacillus sp, Pseudomonas aeruginosa.

    Jamur yaitu : Actinomyces, Aspergilus, Fitomikosis, Sportrikum, dan kokidiodes.

    Penyebab endotalmitis non supuratif adalah infeksi kuman nonpiogen yang membentuk granuloma seperti Tuberkulosis, Sifilis, Lepra, Protozoa (Toxoplasma, Histoplasma, Cacing).

    Penyebab endotalmitis non supuratif non granulomatosa adalah oleh karena suatu reaksi hipersensitiv akibat infeksi Protozoa, fokal infeksi di tempat lain atau suatu trauma mekanis.

  3. Klasifikasi

    Endotalmitis : 1. Supuratif         ; Granulomatosa

             2. Non Supuratif    ; Granulomatosa

                             Non Granulomatosa

    Endotalmitis berdasarkan cara terjadinya;

    1. Endotalmitis pos operatif
    2. Endotalmitis akibat trauma
    3. Endotalmitis bleb
    4. Endotalmitis endogen
  4. Pembahasan

    Endotalmitis Supuratif

    1. Endotalmitis bakteri
    2. Endotalmitis jamur

     

    ENDOFTALMITIS BAKTERI

        Endotalmitis bakteri merupakan suatu peradangan supuratif jaringan intraokuler yang disebabkan oleh kuman piogenik yaitu ; Staphylococcus aereus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus,Baccilus, Pseudomonas aeruginosa.

        Masuknya mikroorganisme kedalam rongga intra ocular dapat secara eksogen sesudah suatu trauma, operasi mata ataupun tukak kornea yang menembus, data pula secara endogen melalui septikemi atau bakteremi yang berasal dari focus di tempat lain. Umumnya endotalmitis bkteri bersifat hiperakut dan disebabkan oleh kuman yang pathogen yang menghasilkan toksin dan enzim dan mengakibatkan timbulnya nekrosis yang berat.

    Gambaran Klinis:

    Gejala Subjektif

    1. Onset 72 jam setelah pembedahan, dapat juga terjadi

      kemudian secara perlahan-lahan.

    2. Rasa nyeri
    3. Kemunduran penglihatan

    Gejala objektif

    1. Tampak edem palpebra
    2. Kimosis dan hiperemi konjungtiva
    3. Edem kornea dan infiltrasi struma
    4. Hipopion
    5. Kekeruhan pada badan kaca berupa massa berwarna kuning dibagian anterior retrolental

    Kadang-kadang pasien tidak mengeluh rasa nyeri, tetapi merasa tidak nyaman dan fotofobia. Ketajaman visus harus selalu diperiksa. Perubahan pada vitreus, reaksi ruang anterior, Hipopion dan gejala yang tidak khas lainnya merupakan tanda yang signifikan dalam menegakkan diagnosis endotalmitis bacterial.

Sumber Infeksi

Sumber infeksi pada pos operasi mata disebabkan oleh pasien itu sendiri, instrumen, cairan, obat-obatan yang terkontaminasi dan digunakan pada operasi.

Ahli bedah juga dapat menjadi sumber infeksi yang terjadi oleh karena pemakaian masker yang tidak benar sehingga mememungkinkan penularan melalui hidung dan mulut. Namun berbagai cairan yang tidak tertutup rapat akan terkontaminasi dengan udara di ruang operasi sebelum cairan tersebut dimasukkan kedalam mata.

Sumber infeksi yang berasal dari trauma pada segmen anterior yang terinfeksi biasanya timbul infiltrasi selular di sekitar area luka, dan berhubungan dengan iritis berat dan hipopion. Bila terinfeksi oleh organisme pathogen virulen akan mengakibatkan endotalmitis, panoptalmitis, dan selulitis yang diperberat oleh benda asing yang tertinggal di dalam mata dan mengakibatkan nidus infeksi. Oleh sebab itu trauma tembus pada mata harus diobati secara rutin dan bersifat profilaksis untuk memastikan bahwa tidak ada pertumbuhan mikroorganisme di dalam mata.

Pemeriksaan laboratorik yaitu kultur cairan bilik mata depan dan badan kaca dilakukan apabila telah terdiagnosis endotalmitis bakteri untuk menentukan etiologi sehingga dapat memberikan terapi antibiotik spesifik.

Penatalaksanaan

Pengobatan secara umum dengan pemberian antibiotik sesuai dengan jenis kuman penyebab; bila kuman penyebab adalah Staphylococcus maka diberikan antibiotic basitrasin (topical), metisilin (subkonjungtiva dan IV), sedangkan bila Pneumokokus, Streptococcus dan Staphylococcus berikan antibiotic penisilin G (topical,subkonjungtiva dan intravena). Bila kuman penyebab adalah Pseudomonas maka diberikan gentamisin, tobramisin dan karbesilin (topical,subkonjungtiva, dan IV) , kuman batang gram lainnya diberi Gentamisin (topical,subkonjungtiva, dan IV).

Sikloplegik diberikan 3 kali sehari tetes mata, apabila pengobatan gagal dapat dilakukan eviserasi.

Penyulit; apabila sclera dan tenon terkena maka akan terjadi panoftalmitis.

    

    ENDOFTALMITIS JAMUR

Jarang menyebabkan infeksi pada intra ocular, onset infeksi jamur pos operasi atau trauma lambat biasanya 2 bulan atau lebih, hal ini berhubungan dengan masa inkubasi jamur.

Biasanya disebabkan oleh aktinomices, aspergilus, Fitomikosis,Sporotrikum dan koksideus, yang menyebabkan gejala mata merah dan sakit.

Pengobatan diberikan obat-obatan anti jamur yaitu ; Amphoterisin B 150 mikrogram sub konjungtiva, Natamycin, Miconazole.

 

 

ENDOFTALMITIS NON SUPURATIF

Merupakan peradangan non supuratif jaringan intra ocular yang disebabkan oleh kuman non piogen.

Secara histopatologik pada jenis non granulomatosa terdapat destruksi jaringan yang lebih ringan daripada peradangan supuratif, selalu ditemukan sebukan sel radang baik secara difus ataupun berupa fokus-fokus pada koroid.

Pada endotalmitis granulomatosa terdapat infiltrasi sel mononuklir makrofag dan sel epiteloid. Kemudian akan terjadi nekrosis jaringan yang diakhiri dengan fibrosis jaringan. Pada endotalmitis non granulomatosa proses ini dimulai dengan sebukan sel leukosit PMN yang segera diikuti oleh sel limfosit dan sel plasma.

Gambaran klinis

Biasanya berupa uveitis berat tanpa supurasi, berjalan lambat walaupun peradangan non granulomatosa berjalan lebih cepat daripada jenis granulomatosa.

Pada jenis granulomatosa terdapat granuloma yang bentuk dan letaknya tergantung penyebabnya.

Penatalaksanaan ditujukan terhadap penyebabnya dan kortikosteroid.

 

 

 

 

ENDOFTALMITIS FAKOANAFILAKTIK

Endotalmitis fakoanalitik merupakan endoftalmitis unilateral ataupun bilateral yang merupakan reaksi uvea granulomatosa terhadap lensa yang mengalami rupture. Merupakan suatu penyakit autoimun terhadap jaringan tubuh tidak mengenal jaringan lensa yang tidak terletak di dalam kapsul (membrane basalis lensa).

Protein lensa ini bersifat organ spesifik dan tidak spesies spesifik, pada badan berbentuk antibody terhadap lensa sehingga terjadi reaksi antigen antibody yang akan menimbulkan gejala endotalmitis fakoanalitik atau fakoantigenik.

Bila masa lensa keluar dari kapsul lensa pada katarak hipermatur dan lensa yang keluar ini menimbulkan reaksi makrofag dan mengakibatkan tertutupnya saluran cairan aliran air mata yang akan menimbulkan glaucoma maka akan terjadi glaucoma fakolitik.

Kadang-kadang penyakit ini berjalan bersama trauma lensa yang menimbulkan fakoanafilaktik sehingga terjadi uveitis simpatika.

 

 

 

 

 

PANOFTALMITIS

Merupakan peradangan seluruh bola mata termasuk sclera dan kapsul Tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses. Infeksi kedalam bola mata dapat melalui peredaran darah (endogen) atau perforasi bol;a mata (eksogen) dan akibat tukak kornea perforasi.

Bila panoftalmitis akibat bakteri maka perjalanan penyakit cepat dan berat, sedang bila akibat jamur perjalanan penyakit perlahan-lahan dan gejala terlihat beberapa minggu setelah infeksi.

Panoftalmitis akan memberikan gejala kemunduran tajam penglihatan disertai rasa sakit, mata menonjol, edem kelopak, konjungtiva kemotik, kornea keruh, bilik mata dengan hipopion dan refleks putih di dalam fundus okuli.

Pengobatan panoftalmitis ialah dengan antibiotic dosis tinggi dan bila gejala radang sangat berat dilakukan segera eviserasi isi bola mata.

Penyulit panoftalmitis dapat membentuk jaringan granulasi disertai vaskularisasi dari koroid. Panoftalmitis dapat berakhir dengan terbentuknya jaringan fibrosis yang akan mengakibatkan ftisis bulbi.

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

 

Secara umum infeksi intraokuler dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, atau parasit. Banyak cara masuk mikroorganisme tersebut kedalam mata yaitu melalui pos operatif akibat penggunaan instrumen, obat-obatan yang terkontaminasi dengan kuman tersebut. Trauma pada mata dapat menyebabkan infeksi karena masuknya benda asing yang terkontaminasi dengan berbagai mikroorganisme yang menjadi sumber penularan infeksi.

Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalamnya. Peradangan supuratif di dalam bola mata akan menimbulkan abses di dalam badan kaca. Penyebab endotalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui darah (endogen). Penyebab endotalmitis eksogen karena trauma tembus atau infeksi sekunder pada tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endotalmitis eksogen terjadi akibat penyebaran bakteri, jamur, ataupun parasit dari focus infeksi di dalam tubuh.

Diagnostik ditegakan secara klinis, dan terapi pengobatan menggunakan antibiotic melalui periokular atau subkonjungtiva.

Penyulit endoftalmitis adalah bila proses peradangan mengenai ketiga lapisan mata meliputi retina, koroid, sclera dan badan kaca maka akan mengakibatkan panoftalmitis. Prognostik endoftalmitis dan panoftalmitis sangat buruk terutama bila disebabkan oleh jamur atau parasit.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ilyas, sidarta:ilmu penyakit mata,edisi kedua,Jakarta, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1998 hal; 182-183

Ilyas,sidarta:Ringkasan dan Istilah Penyakit Mata edisi pertama, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti 1988 hal;101-102

http://www.google.com

http://nejm.com

http://medicastore.com

http://sikkahoder.blogspot.com