UP-DATE MALARIA TREATMENT

 

Pendahuluan

    Sudah lebih dari 30 tahun departemen kesehatan R.I menerapkan pengendalian pengobatan malaria melalui pedoman pengobatan tunggal yang terdiri dari klorokuin(CQ), sulfadoksin-pirimetamin(SP) sebagai obat utama dengan kina sebagai obat penyelamat bila terjadi kegagalan. Resistensi terhadap pengobatan tunggal dari plasmodium(P) falciparum mulai dilaporkan sejak tahun 1973 di Kalimantan Timur dan P. vivaks pada tahun 1991 di Papua. Resistensi tersebut dalam waktu 20 tahun telah meluas ke hampir semua propinsi di wilayah Indonesia, dimana pada pertemuan evaluasi monitoring di 4 propinsi di Indonesia ( Jawa-Tengah, Riau, Lampung dan Sulawesi Utara) menunjukkan resistensi yang meningkat.

    Dengan data-data yang ada pada pertemuan komisi ahli malaria pada bulan Oktober telah diputuskan untuk menggunakan obat kombinasi baru yang berisi artemisinin sebagai obat pilihan di Indonesia. Sehubungan dengan itu, seiring dengan perlunya penyediaan obat dalam jumlah yang cukup maka telah dimulaikan pemakaian obat Artemisinin Combination Therapy (ACT) tersebut pada beberapa propinsi dengan kegagalan terapi obat CQ atau SP yang > 25% yaitu Papua, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur(NTT) dan beberapa daerah kabupaten dengan resistensi tinggi.

 

ARTEMISININ SEBAGAI KOMPONEN OBAT KOMBINASI

    Artemisinin merupakan obat antimalaria kelompok seskuiterpen lakton yang bersifat skizontosida darah untuk P. falciparum dan P. vivax. Obat ini berkembang dari obat tradisional Cina untuk penderita demam yang dibuat dari ekstrak tumbuhan Artemesia annua L (qinghao) yang sudah dipakai sejak ribuan tahun yang lalu. WHO pada tahun 1998 memberikan rekomendasi untuk penggunaan derivat artemisinin (ART) sbb :

  • Untuk pengobatan malaria berat
  • Untuk pengobatan malaria ringan/ tanpa komplikasi, khususnya pada kasus multiresisten
  • Untuk meningkatkan efikasi dan menghambat resistensi terhadap ART harus dipakai kombinasi dengan obat malaria lain. Perkecualian bila tidak bisa memakai obat lain diberikan dalam waktu 7 hari.
  • Bila dipakai bersama mefoquine dapat dipakai kombinasi 3 hari

Artemisinin base Combination Therapy merupakan kombinasi pengobatan yang unik, karena artemisinin memiliki kemampuan :

  • Menurunkan biomass parasite dengan cepat
  • Menghilangkan simptom dengan cepat
  • Efectif terhadap multi-drug resisten
  • Menurunkan pembawa gamet, menghambat transmisi
  • Belum ada resistensi terhadap ART
  • Efek samping yg minimal

Derivate artemisinin antara lain dalam bentuk oral : artemisinin (quinghaosu), artesunate, artemether dan dehydroartemisinin. Dalam bentuk injeksi : artemether i.m, artheether im, artesunate i.v,; dalam bentuk suppository artemisinin, artesunate, dihydro-artemisinin. Pada kehamilan, belum ada data klinis adanya mutagenik ataupun teratogenik. ART dapat digunakan pada kehamilan trimester II & III dan tidak dipakai pada trimester I.

    Kombinasi ART dianjurkan bersama dengan half life yang panjang untuk memperpendek masa pemakaian ART. Contoh kombinasi ART ialah :

  • Artesunate + chloroquine
  • Artesunate + amodiquine ( ARTESDIAQUINE)
  • Artesunate + Sulfadoksin-pirimetamin
  • Artesunate + mefloquine
  • Artesunate + pyronaridine
  • Artesunate + Chlorproguanil + dapsone ( LAPDAP PLUS )
  • Artemether + lumefantrine ( CO-ARTEM/ RIAMET)
  • Dehydroartemisinin + piperaquine+ trimethoprim ( ARTECOM)
  • Artecom + primaquine
  • Dihydroartemisinin + naphthoquine

 

PENGALAMAM PENGGUNAAN ARTEMISININ DI INDONESIA

    Penelitian penggunaan artemether dibandingkan dengan kina per infus pada malaria berat di Indonesia dilaporkan oleh Emiliana dari penelitian di Balikpapan yaitu survival rate 87% vs 77%. Penelitian kami di Minahasa juga memberikan hasil serupa yaitu 89% vs 83%. Pada saat ini sedang berlangsung penelitian di Timika dengan sample yang besar antara artesunate iv dibandingkan dengan kina per infus ( Sequamat study).

    Penelitian ACT dengan menggunakan pengobatan Artesdiquine (artesunate + amodiaquin) pada malaria ringan/ tanpa komplikasi telah berlangsung pada beberapa daerah yaitu :

  • Di Sumba Timur , efikasi ialah 90 %
  • Di Banjarnegara , respon klinis adekuat 81%, gagal kasep klinis 7,1% dan gagal parasit kasep 11,9%.

 

PENGOBATAN BARU MALARIA DI INDONESIA

    Sesuai dengan perkembangan resistensi malaria secara global dan nasional, maka pertemuan komisi ahli malaria telah mengambil langkah baru dalam pengobatan malaria di Indonesia. Keputusan ini juga didasarkan atas solidaritas global dalam usaha menghentikan berkembangan multidrug resistensi. Keputusan dalam strategi pengobatan ialah untuk menggunakan ACT sebagai pengobatan malaria falsiparum. Pada tahap awal obat yang digunakan ialah ARTESDIAQUINE ( kombinasi artesunate tab 50 mg dan amodiaquine tab 200 mg) selama 3 hari . Untuk orang dewasa dosis yang diberikan ialah 4 tablet/ hari selama hari I – III untuk artesunate dan 3 tablet/ hari ( hari I & II ) , kemudian 1 ½ tablet pada hari III untuk amodiaquine. Untuk dosis anak disesuaikan dosisnya. Beberapa hal yang perlu diketahui untuk penggunaan Artesdiaquine ialah :

  1. Hanya diberikan pada penderita dengan hasil laboratorium positif malaria ( minimal rapid test positif )
  2. Pada tahap awal dipergunakan untuk propinsi resistensinya tinggi dan daerah/ kabupaten resisten
  3. Dilakukan monitoring respon obat untuk 28 hari

 

 

 

Kepustakaan :

  1. WHO : The Use of Artemisinin & its derivates as Anti-Malarial Drugs. Report of a joint CTD/DMP/TDR Informal Consultation, Geneve, 10 -12 June 1998
  2. WHO : Antimalarial Drug Combination Therapy. Report of a WHO Technical Consultation. Geneve 4-5 April 2001
  3. Emiliana Tjitra : Artemether versus Quinine treatment in Severe and complicated Falciparum Malaria. Medical J. Indones 1996; 5(4) : 218 -27.
  4. Inge Zutanito : Penggunaan artesónate-amodiaquine sebagai obat pilihan malaria di Indonesia. Proceeding Symposium of Malaria Control in Indonesia. TDRC Airlangga University Surabaya, Novemver 29 – 30, 2004
  5. Gases MH et all : Therapeutic efficacy of combination Artesónate plus Amodiaquine for uncomplicated malaria in Banjarnegara district, Central Java. Proceeding Symposium of Malaria Control in Indonesia. TDRC Airlangga University Surabaya, Novemver 29 – 30, 2004
  6. ACCESS : ACT NOW. To get malaria treatment that works in Afrika.Medicine Sans Frontieres, 2003
  7. RBM : ACT : the way forward for treating Malaria. http://www.rbm.who.int/cmc_upload/0/000/015/364/RBInfosheet_9.htm