PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN KEBUN PERCONTOHAN TANAMAN JAHE

  1. LATAR BELAKANG

    Penyuluhan pertanian adalah proses pembhelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dirinya ,mengorganisasi kan dirinya dalam mengakses Informasi pasar ,teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya , sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas ,effisiensi usaha ,pendapatan ,dan kesejahteraannya ,serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian lingkungan hidup.

        Penyelenggaraan penyuluhan ini dapat dilaksanakan dengan berbagai methode dan salah satunya yang sangat strategis adalah dengan methode Percontohan

    Percotohan adalah kegiatan penyuluhan bisu yang dilaksanakan dilapangan guna meyakinkan petani tentang kebenaran penerapan sebuah rekomendasi teknologi budidaya maupun prosesingnya dari berbagai komoditi pertanian secara luas.

        Pelaksanaan dengan methode Percontohan ini dimaksudkan agar petani secara langsung dapat belajar mengalami tentang berbagai Informasi teknologi yang diterapkan pada suatu usaha tani sehingga petani dapat belajar secara aktif ,karena tempat percontohan berada dilahan petani maupun lahan pemerintah yang terdahulunya telah mempertimbangkan aspek teknis,sosial dan ekonomi sehingga pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah bagi petani.

     

  2. TUJUAN .

    Tujuan penyelenggaraan Percontohan adaqlah:

    1. Melaksanakan Penyuluhan pertanian baik secara lisan maupun secara bisu.
    2. Meyakinkan petani tetang kebenaran Informasi teknologi budidaya maupun prosesing yang disuluhkan
    3. Agar petani lebih banyak yang menerima informasi teknologi yang disuluhkan.
    4. Petani dapat mengalami proses penerapan teknologi secara langsung.
    5. Petani akan lebih mudah menerima dan menerapkan teknologi yang dianjurkan
    6. Membantu penyuluh dalam penyediaan sarana produksi untuk menerapkan teknologi.

C, SASARAN .

Sasaran pelaksanaan kegiatan Kebun Pertoncohan pada Badan Ketahana Pangan Dan Penyulhan Pertanian Tahun Anggaran 2010 adalah :

  1. Agribisnis Jahe
  2. Agribisnis Cabe
  3. Agribisnis Ayam Buras
  4. Dem area Jagung di Lahan Tidur.

c. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pelaksanaan percontohan meliputi:

  • Percontohan jahe 1 unit (0,05 Ha)
  • Percontohan cabe 1 unit (0,10 Ha)
  • Percontohan area jagung di lahan tidur 4 unit
  • Percontohan ayam buras 8 unit

D. Sasaran

Sasaran pelaksanaan percontohan adalah peningkatan pengelolahan bahan BPK, jahe di kecamatan Kodi Utara dan cabe di BPK Karuni, pemanfaatan lahan tidur di kecamatan Loura, Kodi Utara, Kodi, dan Kodi Bangedo dan ayam buras 5 BPK yang ada dan lahan penyuluhan/petani di kecamatan Wewewa Barat, Wewewa Utara, dan Kodi.

 

E. Out Put

-Lahan BPK Kori dapat mengembangkan jahe secara agribisnis

-Lahan BPK Karuni dapat mengembangkan agribisnis cabe

-Penyuluhan/kontak tani dapat memelihara ayam buras di BPK atau di

lahan penyuluhan/kontak tani bagi kecamatan yang belum ada BPK

-Petani/kelompok tani dapat mengembangkan jagung di lahan tidur
F. Manfaat

Sebagai pedoman dalam pelaksanaan percontohan bagi pengelolah tingkat kabupaten maupun pelaksana tingkat lapangan.

G. Dasar Hukum

Dasar hukum pelaksanaan kegiatan ini adalah DPA SKPD Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian TA 2010.

 

BAB II

PELAKSANAAN

 

Percontohan Jahe

Prospek usaha tani jahe cukup menggembirakan, mengingat tingkat kebutuhan jahe dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup pesat seiring dengan pesatnya perkembangan industri jamu, industri obat-obatan,industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku dari jahe.

Keanekaragaman manfaat jamu ini mendorong tingginya permintaan pasar sehingga membuka peluang usaha tani jahe diberbagai wilayah.

 

  1. Pembibitan

    Umumnya tanaman jahe diperbanyak melalui rimpang. Rimpang yang telah tumbuh tunasnya, dipatah-patahkan kemudian ditanam dan rimpang inilah yang disebut bibit.

    1. Syarat Bibit

    Dalam memilih bibit, syarat yang perlu diperhatikan adalah:

  • Bibit diperoleh dari tanaman jahe yang sudah tua,antara 9-12 bulan pada saat panen
  • Dipilih dari tanaman yang sehat
  • Satu rimpang memiliki paling kurang 1 mata tunas
  • Rimpang tidak luka atau lecet
  1. Syarat Memperoleh Bibit

Cara memperoleh bibit yang baik harus dilakukan dengan mengambil langsung dari kebun atau membeli dari petani jahe. Dengan tujuan kualitas jahe terjamin serta calon petani jahe dapat memperoleh informasi tentang menanam jahe yang benar.

  1. Cara Membuat Bibit

Cara membuat bibit jahe biasa disebut mengecambahkan bibit dengan proses sebagai berikut.

Pertama-tama siapkan rak dari kayu atau bambu dengan ukuran yang disesuaikan dengan jumlah rimpang jahe yang akan digunakan sebagai bibit. Rak tersebut biasanya diberi atap atau dibuat di bawah naungan. Setiap sisinya dibiarkan terbuka agar sirkulasi udara bebas keluar masuk. Tinggi rak disesuaikan dengan jumlah satuan bibit dan dibuat bersusun antara 3-5 susun. Serta jarak antara lantai pertama dengan kedua setinggi 30-40 cm. Penempatan rak sebaiknya ditempat teduh, lembab, dan setiap hari disirami air. Setelah 2-4 minggu pada rimpang akan muncul tunas. Sebaiknya selama penyemaian disemprot dengan fungisida 1 kali.

Rimpang yang telah bertunas diambil dari rak dan diseleksi mana yang baik dan man yang jelek. Setelah diseleksi, kemudian dipatah-patahkan tanpa menggunakan pisau, dan untuk satu stek rimpang terdapat 3-5 mata tunas. Kemudian rimpang tersebut dimasukkan ke dalam karung dan celupkan kedalam larutan fungisida selama kurang lebih setengah hari. Setelah itu, diangkat bersama karungnya dan dijemur selama 2-4 jam dan selanjutnya bibit siap untuk ditanam.

Contoh rak persemaian:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagan Proses Pengecambahan Bibit

 

Rimpang jahe segar

 

Dicuci

 

Simpan di rak dan tutup dengan jerami

 

Semprot fungisida 1 kali dan siram air 1 kali sehari


Tumbuh tunas

 

Diseleksi

 

Dipatah-patahkan

 

Dijemur 1 hari

 

Siap tanam

 

 

 

 

 

 

  1. Kebutuhan Bibit dan Jarak Tanam

Keburuhan bibit jahe sanagt tergantung pada berat setiap rimpang dan jarak tanam. Semakin besar rimpang yang dipatah-patahkan semakin banyak bibit yang dibutuhkan 1 Ha. Demikian sebaliknya, semakin kecil rimpang yang dipatah-patahkan maka semakin sedikit pula bibit yang dibutuhkan 1 Ha.

Untuk jarak tanam, semakinsempit jarak tanam maka semakin banyak bibit yang dibutuhkan 1 Ha dan bila semakin besar jarak tanam semakin sedikit bibit yang dibutuhkan.

  • Jarak tanam dapat menggunakan ukuran 30×30 cm atau 30×40
  • Jumlah bibit yang dibutuhkan per Ha sebanyak 3-3,5 ton

     

  1. Pengelolahan Tanah

Sebelum bibit jahe ditanam, perlu dilakukan pengolahan tanah, dengan kedalaman cukup 30 cm. Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan mencangkul atau menggunakan traktor. Pencangkulan tanah ini dimaksudkan untuk mendapatkan struktur tanah yang gembur atau remah, membersihkan rumput dan batuan kecil/kerikil. Setelah tanah dibalik kemudian dibiarkan selama kurang lebih 2-3 minggu agar gas-gas beracun dalam tanah menguap dan setelah itu dilakukan pengolahan tanah. Selain itu juga,dilakukan pengolahan tanah dan diberi pupuk kandang yang sudah matang dengan dosis/Ha 20-25 ton/Ha, sekaligus membuat bedengan dengan ukuran panjang sesuai keadaan lahan, dengan lebar bedengan 100 m, tinggi bedengan 30 cm,dan lebar selokan 30 cm serta membuat drainase bila perlu.

  1. Penanaman

Bedengan-bedengan yang sudah dibuat diukur jarak tanamnya 30×30 cm. Kemudian dilubangi sedalam 7-10 cm.

Bibit dibenamkan 1 lubang untuk 1 bibit yang sudah tunas 3-5 mata tunas, dengan cara meletakkan bibit dengan mata tunas menghadap ke atas dan rimpang ke arah dalam tanah atau antar baris.

Setelah bibit dimasukkan, kemudian bibit ditutup dengan tanah dan jangan ditekan terlalu padat dan bila perlu diberi mulsa mencegah terik matahari dan erosi air hujan serta dapat menjaga kestabilan suhu tanah/lingkungan.

  1. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman jahe meliputi penyulaman, penyiangan, pemupukan dan pembumbunan yang selanjutnya dapat diuraikan secara rinci.

  1. Penyulaman

    Penyulaman adalah menggantikan tanaman yang mati dengan menggunakan bibit yang sisa pada persemaian.

    Waktu penyulaman dilakukan 2-4 minggu setelah waktu tanam sehingga tanaman yang disulam tidak terlalu ketinggalan pertumbuhannya dan masa panen bisa serentak serta produktifitas lahan dapat diukur.

  2. Penyiangan

    Agar tanaman jahe terjaga pertumbuhan yang sehat maka diperlukan penyiangan secara teratur tiap bulan sampai dengan umur 6 bulan dengan menggunakan cangkul.

  3. Pembumbunan

    Pembumbunan adalah mempertinggi permukaan tanah tempat tanaman tumbuh. Biasanya dilakukan bersamaan dengan menggemburkan tanah sekitar tanaman dengan maksud membuat dikasi tanah menjadi lebih baik,mematikan rumput yang tumbuh disekitar tanaman dan sekaligus mengembalikan tanah yang turun akibat air hujan.

  4. Pemupukan

    Pupuk adalah bahan-bahan organik maupun anorganik yang diberikan kepada tanah untuk memperbaiki keadaan fisik tanah dan sekaligus melengkapi substansi anorganik yang essensial bagi tanaman.

    Kebutuhan unsur hara untuk pembentukan rimpang dari tanaman jahe adalah unsur N dan K.

  • Jenis pupuk dan dosis yang digunakan meliputi

    Urea 200 kg

    TSP 200 kg

    KCL 200 kg

  • Frekuensi dan waktu pemupukan dilaksanakan sebanyak 2 kali selama pertanaman,yaitu pemupukan I pada saat tanaman umur 1 bulan setelah tanam dan pemupukan II pada saat tanaman umur 3 bulan setelah tanam.
  • Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal pada jarak 7-10 cm dari tanaman sedalam 5 cm atau membuat alur sepanjang barisan tanaman, ataupun membuat lubang melingkar tiap rumpun tanaman, kemudian ditutup kembali dengan tanah.

Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit merupakan bagian dari sebuah siklus kehidupan tanaman yang sulit untuk dipisahkan namun bisa dicegah dan diatasi dengan mengenali gejalah-gejalah yang muncul baik pada akar rimpang, batang maupun daun jahe. Dengan mengenali mengenali tanda-tanda serangan hama dan penyakit, diharapkan dapat dilakukan pencegahan hama penyakit tersebut.

Beberapa hama yang diperhatikan adalah hama rimpang, hama gendang, dan hama kepik. Semuanya dapat dicegah melalui pengamatan yang tertib dan penyemprotan dengan pestisida yang tepat. Sedangkan beberapa penyakit penting lainnya adalah penyakit busuk rimpang, penyakit bercak daun dan penyakit layu bakteri. Namun untuk menghindari gangguan penyakit ini perlu dilakukan pengamatan yang teratur, dan bila ada gejalah maka segera lakukan pengendalian dengan pestisida atau fungisida sesuai petunjuk dari petugas hama dan penyakit.

 

Panen dan Pasca Panen

Panen dapat dilakukan setelah tanaman berumur 8-9 bulan kecuali ada permintaan khusus di pasar, maka dapat dipanen pada umur 3-4 bulan setelah tanam.

  1. Cara Panen

    Cara memanen jahe dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

  • Batang dan daun dipangkas abis
  • Menggali jahe dengan cangkul/fork, dan usahakan jangan mengenai rimpang agar jangan luka
  • Rimpang diambil dan dibersihkan dari tanah yang menempel dan bila perlu dicuci dengan air
  • Rimpang diangin-anginkan dan disimpan di tempat yang teduh
  • Dimasukkan ke dalam keranjang atau karung yang berlubang
  • Siap untuk dipasarkan
  1. Hasil Produksi

    Produksi jahe perhektar jika dikelola secara baik dapat mencapai 8-10 ton/Ha

  2. Pasca Panen

    Sebaiknya jahe dipanen saat akan dijual ke pasar, sehingga tidak terlalu lama dalam penyimpanan yang mengakibatkan resiko penyusutan dan hama gudang.

About these ads